Mengenal Fire Alarm System Untuk Aset Anda

Diperbarui: Apr 2

Pemasangan fire alarm system merupakan salah satu langkah proteksi bangunan dari kebakaran yang paling efektif. Saat ini, bukan hanya kantor, gedung, hotel atau pabrik yang dilengkapi dengan alarm kebakaran. Tetapi rumah pribadi, kos-kosan, hingga sekolah pun sudah banyak dipasangkan alarm sebagai langkah preventif.


Sebab berdasarkan data yang dikumpulkan oleh BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), kebakaran menjadi salah satu kasus dengan jumlah terbanyak di 3 bulan pertama tahun 2019 di Jakarta, yaitu lebih dari 120 kasus terjadi dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Bahkan jumlah kasusnya lebih banyak daripada kasus banjir yang hanya terjadi 21 kali.


Tercatat sudah lebih dari 400 kios, pabrik, dan tempat jualan yang hangus terbakar. Oleh karena itu, pemasangan alarm pendeteksi kebakaran semakin banyak bahkan untuk di rumah tunggal sekalipun.



Apa itu Fire Alarm System?


Sesuai dengan namanya, fire alarm system adalah sebuah alat untuk memperingatkan seluruh penghuni bangunan bila mana terjadi kebakaran. Berdasarkan Wikipedia, sistem ini pertama kali dikembangkan oleh Francis Robbins Upton di sekitar tahun 1890'an.


Francis Robin Upton bersama Thomas Alfa Edison pertama kali mengembangkan alarm untuk mendeteksi asap menggunakan sensor yang bisa ditempel di permukaan dinding.


Kemudian di tahun 1903, ahli kelistrikan dari Eropa bernama George Andrew Darby mematenkan hak cipta untuk sistem pendeteksi panas yang ia kembangkan sendiri. Sistem ini juga mengadaptasi dari smoke detector yang dibuat oleh Francis Robin Upton.


Dan di tahun 1930'an, seorang fisikawan dari Swiss bernama Walter Jaegar mengembangkan fire alarm system agar bisa mendeteksi gas beracun dan gas kimia yang mudah terbakar. Alarm ini diguakan untuk mencegah terjadinya kebakaran di dapur restoran karena adanya kebocoran tabung gas.


Jenis-jenis Fire Alarm System


Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, ada banyak jenis fire alarm system yang digunakan saat ini. Mulai dari yang menggunakan sensor asap, sensor panas, maupun yang menggunakan alarm manual. Untuk lebih lengkapnya, berikut ini kami jelaskan pengertian tiap jenisnya.


1. Smoke Detector


Smoke detector merupakan jenis alarm pemadam kebakaran yang bekerja dengan cara mendeteksi bilamana ada asap di dalam ruangan tersebut. Beberapa sistem smoke detector juga bisa mendeteksi bila ada gas yang mudah terbakar terdeteksi oleh alat tersebut.


Bisa dibilang smoke detector merupakan jenis fire alarm system yang paling pertama dikembangkan di dunia. Meskipun begitu, hingga saat ini masih banyak gedung dan bangunan yang menggunakan smoke detector. Sebab harganya cenderung lebih murah.


Smoke detector akan mengirimkan sinyal ke control panel ketika sistemnya mengidentifikasi asap yang masuk ke dalam alat pendeteksi. Karena prinsip asap selalu naik ke permukaan yang lebih tinggi, maka alat pendeteksi ini kebannyakan ditempatkan di langit-langit ruangan.


Baca Lebih Lengkap : Apa itu Smoke Detector dan Jenis - jenisnya


2. Photoelectric Detector


Selanjutnya ada sistem pendeteksi kebakaran dengan jenis photoelectric detector. Berbeda dengan smoke detector, cara kerja alarm kebakaran yang satu ini adalah dengan cara mendeteksi jarak dan ada atau tidaknya suatu benda dengan memancarkan sinar LED (Light Emitting Diode).


Bisa dibilang, sistem pendeteksi kebakaran yang satu ini merupakan versi canggih dari smoke detector system. Sehingga lebih cocok bila digunakan di bangunan untuk pabrik, restoran, atau bangunan industri lainnya.


Dibandingkan smoke detector, harga pemasangan sistem alarm kebakaran ini juga terbilang lebih mahal. Tetapi Anda tidak perlu melakukan perawatan seperti membersihkan sensor LED agar bisa bekerja dengan baik.


3. Manual Alarm System


Jenis sistem alarm kebakaran yang terakhir adalah manual alarm system. Sesuai dengan namanya, alarm ini tidak bisa beroperasi secara otomatis. Melainkan harus ditekan secara manual oleh orang yang mendeteksi adanya kebakaran.


Biasanya model alarm ini digunakan di dalam ruangan yang memang selalu berasap atau panas. Misalnya ruangan yang digunakan untuk memasak dalam jumlah banyak atau ruangan yang diisi mesin baik genset maupun diesel.


Dibandingkan kedua jenis alarm sebelumnya, sudah pasti manual alarm system ini adalah yang paling murah. Namun karena hanya bisa beroperasi secara manual, perlu ada orang yang berjaga di ruangan tersebut selama 24 jam secara bergantian.



Cara Kerja Fire Alarm System


Seperti yang sudah disinggung tadi, sistem alarm kebakaran ini bekerja secara otomatis ketika mendeteksi titik api, asap, atau suhu ruangan yang terlalu tinggi.


Ketika ada sensor dalam sistem mengidentifikasi adanya asap atau suhu panas, maka alarm akan mengirimkan sinyal ke MCFA. MCFA adalah komponen di dalam fire alarm yang bertugas untuk mengirimkan sinyal dari sensor atau detector ke control panel.


Di Control panel, Anda bisa meninjau dari ruang monitor agar petugas bisa melihat ruangan mana yang mengirimkan sinyal titik api tersebut. Saat ini, sudah ada banyak jenis panel fire alarm yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan bangunan.


Kemudian alarm atau sirene akan langsung berbunyi di seluruh ruangan yang ada di dalam gedung untuk memperingatkan kepada seluruh penghuni gedung agar segera keluar melalui jalur evakuasi yang sudah disediakan.


Beberapa sistem alarm kebakaran yang ditempatkan di pabrik dengan banyak peralatan listrik juga akan langsung memutus aliran listrik di gedung tersebut. Kemudian secara otomatis lampu emergency akan langsung menyala agar orang yang masih berada di dalam gedung bisa tetap keluar tanpa harus bertabrakan.


Baca juga : Jenis dan Cara Kerja Sistem Pemadam Kebaran Gedung


Kemudian jika sistem alarm sudah terintegrasi dengan sprinkler yang terpasang di dalam gedung, maka secara otomatis sprinkler juga akan menyala. Dan sprinkler yang menyala pertama kali adalah yang ditempatkan di ruangan dimana titik api pertama kali ditemukan.


Semua proses ini akan berlangsung secara singkat dalam hitungan detik. Sehingga titik api yang teridentifikasi oleh sensor bisa segera dipadamkan secepat mungkin.


Namun tentunya, seluruh proses ini hanya akan terjadi pada sistem alarm kebakaran otomatis dengan sensor baik smoke detector maupun heat detector. Sedangkan manual alarm system hanya bisa bekerja jika tombol alarmnya ditekan.


Biaya Pemasangan Fire Alarm System


Dilansir dari situs Ackerman Security, biaya pemasangan sistem alarm kebakaran dihitung per M² ruangan. Umumnya biaya pemasangan alarm ini berkisar antara $2 hingga $3 per m².


Artinya jika dihitung dalam rupiah, Anda perlu menyiapkan biaya sekitar 50 ribu hingga 150 ribu per meter persegi. Tetapi biaya ini hanya estimasi jika ruangan di dalam bangunan tersebut normal. Jika ada faktor tambahan seperti sulitnya layout bangunan, kondisi bangunan atau suhu yang terlalu panas atau dingin, maka akan di ada biaya tambahan yang perlu bayar.


Umumnya jika Anda ingin memasang sprinkler di untuk gedung besar seperti rumah sakit, maka biaya yang perlu dibayar sudah termasuk dengan heat detector, alarm, dan perlengkapan lainnya.


Seperti itulah penjelasan mengenai fire alarm system beserta jenis-jenis dan cara kerjanya. Sebagai langkah preventif, kami sangat menyarankan agar Anda memasang alarm pendeteksi kebakaran ini.


Lihat Produk Fire Alarm dari Quickfire

14 tampilan

PT. Mitra Jaya Sarana

Pusat Bisnis Daan Mogot Baru Blok KJE,

Jalan Tampak Siring No. 12A, Kalideres

Jakarta Barat, DKI Jakarta, 11840

Indonesia

Senin - Jumat

08:00 - 16:00

ABOUT

Produk

Marketing

  • Facebook
  • YouTube mitra jaya sarana
  • LinkedIn mitra jaya sarana

© 2021 by PT. Mitra Jaya Sarana